Category: Berita


Pada tanggal 31 Maret 2012, Maya Hirai School of Origami mendapatkan kunjungan dari guru-guru TK dari Ikatan Guru TK Islam Ciputat .

Kunjungan ini selain untuk belajar origami, juga sekaligus untuk melakukan kunjungan ke lokasi C-59.
View full article »

Pada awal bulan yang baru ini, Maya Hirai School of Origami mendapatkan kunjungan dari TK Al-Mannan Cendekia, Bandung.

Keceriaan siswa-siswi TK yang sangat antusias mengikuti arahan-arahan dari instruktur origami, ibu Nani Suwarni, dan mereka pulang dengan membawa cinderamata dan hasil karya mereka masing-masing untuk dapat diperlihatkan pada keluarga di rumah.

Keceriaan anak-anak membawa juga keceriaan pada kami semua, semoga semua berbahagia sampai akhir nanti.

View full article »

Pada tanggal 25 Februari 2012 diadakan kegiatan pengajaran origami gratis oleh Maya Hirai School of Origami di Hoka-hoka Bento CiWalk, Cihampelas Bandung, oleh instruktur origami, ibu Nani Suwarni.

Kegiatan diadakan sore hari pukul 16.00 sampai dengan 17.30 WIB.

View full article »

goes to Hoka-hoka Bento


View full article »

Pada 13 Juni, MHSO berkesempatan menyelenggarakan Origami Goes to School di SD MUTIARA BUNDA, Jl. Arcamanik Endah no. 3 Bandung yang didukung oleh Kertas Lipat Asturo.

goes to Hoka-hoka Bento Ciwalk View full article »

Hari Rabu 30 November 2011, siswa/i PG-TK Cendekia Leadership School mengadakan fieldtrip ke Maya Hirai School of Origami.

View full article »

Pada 15 Agustus, MHSO berkesempatan menyelenggarakan Origami Goes to School di TK dan SD Ibnu Sina, Jl. LembahAsri No.2 Cimenyan Kabupaten Bandung yang didukung oleh Kertas Lipat Asturo.

View full article »

Selasa, 31/8/2010 | 11:22 WIB

KOMPAS.com – Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, origami masih dikenal sebagai prakarya melipat kertas dari Jepang. Bentuk burung, bangau, pesawat, dan kapal laut mendominasi model origami yang biasa diajarkan di TK dan SD. Namun, di balik itu, origami menyimpan potensi sebagai gaya hidup hingga alat terapi yang ampuh bagi pelakunya.

Cucu Suryati (32), guru Pendidikan Anak Usia Dini Jeruk Manis, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, mengatakan, origami sangat bermanfaat baginya saat mengajar. Origami sering kali digunakan anak didiknya yang masih kesulitan berkomunikasi sebagai simbol bila ingin melakukan sesuatu. Contohnya, ketika ingin ganti baju, anak didiknya menunjukkan origami model baju.

Selain itu, origami menjadi alat terapi yang sempurna karena bisa mengajarkan ketenangan dan ketelitian bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang sulit fokus mengerjakan sesuatu. Hal itu bisa terlihat dari langkah-langkah sistematis yang harus diikuti dalam pembuatan model tertentu.

“Oleh karena itu, saya ingin mempelajari origami ini lebih lanjut, khususnya menggabungkan dua kertas jadi satu bentuk. Selain memudahkan mengajar, saya punya sumber pemasukan ekonomi lain lewat kemampuan ini,” ujarnya.

Bagi Hadi Tahir (29), origamer, sebutan pelaku origami, asal Bandung, dasar-dasar pembuatan origami ikut memberikan sumbangan positif baginya dalam kehidupan sehari-hari karena membentuknya jadi pribadi sabar dan teliti. Bahkan kegagalan dalam membuat origami dijadikan pelajaran berharga agar terus mencoba dan tidak lekas menyerah.

Simbol kedamaian Origami berasal dari bahasa Jepang, yaitu ori yang diadaptasi dari oru yang berarti lipat dan gami yang berasal dari kata kami yang berarti kertas. Meski awalnya hanya digunakan sebagai penutup sake, origami lantas berevolusi menjadi unsur wajib dalam beragam pesta adat, keagamaan, dan penanda status. Bentuknya pun makin beragam, dari dinosaurus, serangga, kerbau, hingga boneka.

Kini origami tidak hanya berkembang di Jepang, tetapi juga tumbuh subur di belahan dunia lain, termasuk Indonesia. Hal itu menjadi salah satu yang menginspirasi kemunculan School of Origami milik Fajar Ismayanti alias Maya Hirai di Cigadung Raya Timur Nomor 85F, Bandung.

Maya mengatakan, origami perlahan-lahan mendapat tempat di hati di masyarakat Indonesia karena memiliki beragam fungsi dan kegunaan. Dari sisi bentuk, origami mempunyai estetika dan keindahan yang berasal dari satu atau dua helai kertas. Dari sisi permainan, banyak hasil origami bisa dimainkan. Contohnya, model pesawat terbang dan bola yang diisi air. Tidak hanya itu, origami menjadi simbol kedamaian sehingga menambah kecintaan masyarakat Indonesia.

“Origami mulai menjadi simbol kedamaian saat Sasaki Sadako, anak asal Hiroshima, yang sakit kelainan darah akibat radiasi bom atom, membuat 1.000 origami. Semangatnya diabadikan menjadi sebuah monumen yang memberikan inspirasi bagi masyarakat dari berbagai negara,” katanya.

(Cornelius Helmy)

by Ekky Siwabessy

Memberi tanda-tangan buku-buku yang dibeli para peserta