Category: PROFIL


Pada 15 Agustus, MHSO berkesempatan menyelenggarakan Origami Goes to School di TK dan SD Ibnu Sina, Jl. LembahAsri No.2 Cimenyan Kabupaten Bandung yang didukung oleh Kertas Lipat Asturo.

View full article »

HUT ke-1 MHSOPada kesempatan ini Maya Hirai School of Origami, sebagai sekolah origami pertama di Indonesia akan memberikan pengenalan dan pengajaran seni melipat kertas (origami) secara gratis kepada 300 orang siswa-siswi Yayasan Yatim Piatu

Rabu, 06 Oktober 2010 | 07:41 WIB

TEMPO Interaktif, Desember mendatang, akan ada dekorasi baru di Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Akan dipamerkan origami 300 camar dan 2.000 kupu-kupu karya Maya Hirai, 39 tahun, dan sekitar seratus remaja penggemar origami di Indonesia.

Camar dipilih karena, menjelang tsunami, burung ini berseliweran di sana. Adapun kupu-kupu merupakan simbol Aceh yang bermetamorfosis sejak luluh lantak oleh tsunami pada pengujung 2004.

Sekarang Maya masih mempersiapkan penggalangan peserta untuk melipat kedua bentuk itu. “Ini agar ada ikatan emosional. Aceh butuh pendatang untuk meningkatkan geliat keterampilan di sana,” kata pengoleksi lebih dari 500 reka bentuk origami ini.

Nama Maya Hirai memang tak bisa lepas dari dunia origami atau seni melipat kertas dari Jepang. Saat ini, di Indonesia, perempuan bernama asli Fajar Ismayanti itu satu-satunya instruktur origami yang memegang sertifikat Nippon Origami Association (NOA).

“Padahal tak ada latar belakang di keluarga saya yang menggeluti origami atau bersentuhan dengan budaya Jepang,” kata sulung dari empat bersaudara pasangan Enah Djulaenah dan Raden Yus Rustam Tirtakusumah ini.

Hidup Maya mulus-mulus saja. Namun pada sekitar 1993 kuliahnya mulai tersendat. “Saya tak ikut ujian akhir karena suami saya sakit tifus dan dirawat di rumah sakit,” ujarnya kepada Tempo, Senin lalu. Maya sempat kesal karena sang suami, Bambang Setia Budi, malah memintanya untuk berhenti kuliah.

“Nangis saya waktu itu. Tapi, demi taat suami, saya berhenti kuliah di Fakultas Teknik Universitas Pasundan,” tuturnya. Untungnya, ketika sang suami, yang menjadi dosen di Institut Teknologi Bandung, melanjutkan pascasarjana arsitektur ke Toyohashi University of Technology, Jepang, Maya diizinkan kuliah lagi. Ia lantas meneruskan kuliah di Universitas Bandung Raya dengan mengambil kajian yang sama.

“Menggebu-gebu semangat saya menyelesaikan kuliah sambil mengurus empat anak yang masih kecil,” katanya. Delapan bulan setelah suami bermukim di Jepang, Maya dan anak-anaknya menyusul ke Negeri Sakura itu. “Terpaksa kuliah berhenti lagi,” Maya mengenang.

Di Jepang, ketika mengemudikan mobil dari apartemen ke toko untuk membeli susu, Maya tertimpa musibah. Karena lengah, mobil yang dikendarainya tertabrak. Surat izin mengemudi internasional Maya ditarik.

“Terpaksa saya belajar bersepeda untuk mengantar tiga anak sekolah,” tutur Maya. Suatu kali, iseng-iseng Maya mencoba menyusuri jalan lain sepulang mengantar anak-anaknya. Ia mengayuh sepeda melewati rumah Takako Hirai, origamer yang pernah memandunya dalam <I>workshop<I> origami. “Dia menyapa saya karena ingat saya siswanya yang pakai kerudung. Lalu saya diajak berlatih origami lagi di sanggar Takako Hirai,” tutur Maya, yang kemudian menjadi asisten pengajar Takako.

Di sanggar ini, Maya mendalami origami, dari yang tradisional, seperti bentuk hewan, hingga kontemporer, seperti tokoh animasi dan kartun masa kini. Kini ia masih menganggap bentuk merak adalah bentuk yang paling rumit dan menantang.

Pada pertengahan 2005, Maya mengikuti tes sertifikasi instruktur origami berkualifikasi dari NOA. Dari 50 bentuk yang diujikan, kapal bajak laut jadi bentuk paling sulit. “Petunjuknya ada, tapi saya tidak mengerti huruf kanji,” kata Maya, yang baru mengenal huruf kanji sampai level huruf hiragana dan katakana. Namun akhirnya ia menemukan juga jalan keluarnya hingga sertifikat pun diraih.

Takako memberinya nama Tomoko, diambil dari origamer terkenal, Tomoko Fuse. “Tetapi terlalu tinggi, jadi saya tolak. Saat meluncurkan buku, saya pilih Hirai saja untuk menghormati Takako,” ia mengungkapkan.

Pada Desember 2005, ia kembali ke Indonesia. Mulai awal 2006, ia sudah kebanjiran permintaan workshop dari rekan berbagi ilmu origami di Tanah Air yang ia usung lewat interaksi di dunia maya di sanggar-origami.com dan Yahoo! Groups.

Selain itu, ia menerbitkan sejumlah buku dan CD tentang origami. Pada 16 Mei lalu, Maya Hirai School of Origami resmi didirikan di Bandung. Namun kegiatan sekolah ini tak menghentikan Maya dari rutinitasnya memandu <I>workshop<I> di sejumlah kota, seperti Jakarta, Depok, Karawang, Bekasi, Medan, Lampung, dan Makassar.

Tak hanya mengajari, Maya juga menerima pesanan ratusan origami untuk dekorasi kafe, restoran, dan hotel, hingga obyek visual gerak untuk layar anjungan tunai mandiri sebuah bank swasta. Bahkan ia membuat origami diorama peternakan untuk iklan sebuah bank syariah.

“Bagi saya, origami lebih dari sekadar seni, karena bisa mengembangkan karakter disiplin. Saya tak bermaksud menggeser budaya Indonesia. Tapi justru ingin mengajak orang meningkatkan apresiasi terhadap keindahan,” ujarnya.

Belakangan, Maya menawarkan konsep ramah lingkungan dalam karyanya. Ia mulai menjelajahi origami dengan menggunakan limbah-limbah rumah tangga, seperti plastik dan aluminum foil dari susu bubuk atau cokelat untuk menyiasati sampah anorganik. | GILANG MUSTIKA RAMDANI

BIODATA

Nama: Fajar Ismayanti
Nama Pena: Maya Hirai
Lahir: Bojonegoro, 28 Mei 1971
Nama Suami: Dr Eng Bambang Setia Budi, ST, MT
Anak:
Abdullah Muhammad Yahya (15 tahun)
Muhammad Yusuf Rabbani (12 tahun)
Tsurayya Az Zahra (10 tahun)
Muhammad Ismail Ibadurrahman (8 tahun)
Hobi: Berbagi

Keanggotaan/Jabatan:
Direktur Sanggar Origami Indonesia, 2006-sekarang
Anggota Nippon Origami Association, Jepang, 2003-sekarang

Publikasi:
Buku Origami, Origami untuk Anak Sekolah Dasar (2006)
CD Origami, Bermain Origami di Rumah, (2007)
CD Origami, Mengenal dan Menyayangi Binatang (2007)
CD Origami, Berkendaraan (2007)
Buku Origami, 30 Origami Favorit (2007)
Buku Origami, Origami untuk Anak Usia 4-10 tahun (2008)
Buku Origami, Kreasi Origami Favorit (2010)

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/keluarga/2010/10/06/brk,20101006-282809,id.html

Sabtu, 18 September 2010 | 03:26 WIB

Cornelius Helmy

KOMPAS.com – Fajar Ismayanti atau Maya Hirai, nama penanya, terkesan dengan inisiatif Pemerintah Jepang yang mewajibkan acara pengenalan seni dan budaya Jepang bagi mahasiswa asing sekali setahun. Pengajar dan fasilitas pelatihan ditanggung pemerintah.

Hal itu dia alami saat mendampingi suaminya, Bambang Setiabudi, yang menempuh studi pascasarjana program arsitektur dari Toyoha University of Japan, tahun 2003.

Selasa, 31/8/2010 | 11:22 WIB

KOMPAS.com – Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, origami masih dikenal sebagai prakarya melipat kertas dari Jepang. Bentuk burung, bangau, pesawat, dan kapal laut mendominasi model origami yang biasa diajarkan di TK dan SD. Namun, di balik itu, origami menyimpan potensi sebagai gaya hidup hingga alat terapi yang ampuh bagi pelakunya.

Cucu Suryati (32), guru Pendidikan Anak Usia Dini Jeruk Manis, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, mengatakan, origami sangat bermanfaat baginya saat mengajar. Origami sering kali digunakan anak didiknya yang masih kesulitan berkomunikasi sebagai simbol bila ingin melakukan sesuatu. Contohnya, ketika ingin ganti baju, anak didiknya menunjukkan origami model baju.

Selain itu, origami menjadi alat terapi yang sempurna karena bisa mengajarkan ketenangan dan ketelitian bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang sulit fokus mengerjakan sesuatu. Hal itu bisa terlihat dari langkah-langkah sistematis yang harus diikuti dalam pembuatan model tertentu.

“Oleh karena itu, saya ingin mempelajari origami ini lebih lanjut, khususnya menggabungkan dua kertas jadi satu bentuk. Selain memudahkan mengajar, saya punya sumber pemasukan ekonomi lain lewat kemampuan ini,” ujarnya.

Bagi Hadi Tahir (29), origamer, sebutan pelaku origami, asal Bandung, dasar-dasar pembuatan origami ikut memberikan sumbangan positif baginya dalam kehidupan sehari-hari karena membentuknya jadi pribadi sabar dan teliti. Bahkan kegagalan dalam membuat origami dijadikan pelajaran berharga agar terus mencoba dan tidak lekas menyerah.

Simbol kedamaian Origami berasal dari bahasa Jepang, yaitu ori yang diadaptasi dari oru yang berarti lipat dan gami yang berasal dari kata kami yang berarti kertas. Meski awalnya hanya digunakan sebagai penutup sake, origami lantas berevolusi menjadi unsur wajib dalam beragam pesta adat, keagamaan, dan penanda status. Bentuknya pun makin beragam, dari dinosaurus, serangga, kerbau, hingga boneka.

Kini origami tidak hanya berkembang di Jepang, tetapi juga tumbuh subur di belahan dunia lain, termasuk Indonesia. Hal itu menjadi salah satu yang menginspirasi kemunculan School of Origami milik Fajar Ismayanti alias Maya Hirai di Cigadung Raya Timur Nomor 85F, Bandung.

Maya mengatakan, origami perlahan-lahan mendapat tempat di hati di masyarakat Indonesia karena memiliki beragam fungsi dan kegunaan. Dari sisi bentuk, origami mempunyai estetika dan keindahan yang berasal dari satu atau dua helai kertas. Dari sisi permainan, banyak hasil origami bisa dimainkan. Contohnya, model pesawat terbang dan bola yang diisi air. Tidak hanya itu, origami menjadi simbol kedamaian sehingga menambah kecintaan masyarakat Indonesia.

“Origami mulai menjadi simbol kedamaian saat Sasaki Sadako, anak asal Hiroshima, yang sakit kelainan darah akibat radiasi bom atom, membuat 1.000 origami. Semangatnya diabadikan menjadi sebuah monumen yang memberikan inspirasi bagi masyarakat dari berbagai negara,” katanya.

(Cornelius Helmy)

by Ekky Siwabessy

Memberi tanda-tangan buku-buku yang dibeli para peserta

Maya di salah satu pameran Sanggar Origaminya

Bandung – Mungkin, banyak yang beranggapan origami hanya sekadar hobi. Tapi ternyata tidak karena manfaat origami bisa berefek pada lingkungan, dekorasi dan juga menghasilkan materi.

Origami berasal dari bahasa Jepang. Gabungan dari kata Ori yang berarti melipat dan gami yang berarti kertas. Menurut Maya Hirai, pendiri Sanggar Origami Indonesia, origami didefinisikan sebagai seni mengubah selembar kertas menjadi bentuk yang unik dan merupakan miniatur benda-benda yang ada di alam.

Pada dasarnya, tutur Maya, semua kertas bisa digunakan untuk origami. Meskipun untuk awal biasanya kertas dengan dua muka lebih banyak digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran. Namun setelah piawai, boleh menggunakan kertas apapun.

Sebab menurut Maya fungsi origami salah satunya bisa menyentuh limbah kertas. “Kertas brosur, kertas koran bisa dimanfaatkan,” tutur ibu tiga putra ini.

Melalui teknik origami kertas-kertas tersebut bisa lebih berguna. Tinggal dibuat lebih menarik, kertas pun bisa jadi dekorasi atau hiasan untuk acara pesta. Dalam pembuatannya pun tidak hanya satu lapis kertas tapi bisa berlapis-lapis, tergantung objek yang akan dibuat.

Namun, lanjut Maya, origami sebagai fungsi atau benda pakai masih sedikit. Misalnya, benda yang sudah bisa dibuat dengan teknik origami adalah wadah.

Bagi Maya, origami adalah sebuah karya seni. Jika ditekuni, origami juga bisa menghasilkan materi.

Seperti halnya Maya yang pernah membuat diorama origami yang kini dipajang di Hotel Nikko Jakarta. Bahkan beberapa anggota Sanggar Origami Indonesia ada yang membuat anting-anting, bros, hiasan, boneka yang menggunakan teknik origami.?

****

Sumber:
teks: http://www.nusantaraku.org/forum/berita-isu-rumor-indonesia/9345-origami-bukan-cuma-hobi.html
foto: admin

PERKENALAN dengan seni melipat kertas ala Jepang (origami) tidak pernah direncanakan Maya Ismayanti (38). Keberangkatannya ke negeri sakura tahun 2003, notabene hanya untuk mendukung suaminya yang akan kuliah S-2. Namun, siapa nyana, ibu empat anak ini malah bertemu dengan “sensei” (guru) origami paling disegani di Jepang. Merasa menemukan ilmu baru yang berharga, ia mengganti nama panggilannya dengan Maya Hirai.

Dilema menyergap Maya saat suaminya, Bambang Setiabudhi (37), mendapat beasiswa S-2 arsitektur dari Toyoha University of Japan. Betapa tidak, sangat tidak mungkin Maya melarang suaminya pergi. Apalagi beasiswa itu merupakan harapan sekaligus kebanggaan yang diimpikan bersama.

Sementara di sisi lain, Maya pun merasa berat harus membesarkan empat anak yang masih kecil-kecil seorang diri. Lebih dari itu, ia juga masih harus menyelesaikan kuliahnya. “Akan tetapi, apa boleh buat, saat itu saya tidak punya pilihan. Saya hanya mencoba taqarrub kepada Allah SWT atas rezeki sekaligus cobaan ini,” ujarnya.

Semula, Maya kuliah di Fakultas Teknik Teknologi Pangan Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, tetapi karena satu dan lain hal ia pindah ke Universitas Bandung Raya (Unbar). Namun, karena pengabdiannya kepada suami dan anak-anak, Maya akhirnya merelakan berhenti kuliah. Ia memilih ikut menyertai suami mencari ilmu dan memboyong keempat anaknya, Yahya (15), Yusuf (11), Tsuroyya (9), dan Ismail (7) ke Jepang.

“Waktu itu anak-anak masih kecil. Saya hanya mencoba ikhlas yang seikhlas-ikhlasnya. Di satu sisi saya ingin menyelesaikan kuliah, tetapi di sisi lain tidak mungkin mengabaikan tanggung jawab sebagai istri bagi suami dan anak-anak,” ujarnya. Lagi-lagi keikhlasan Maya ini diuji. Kehidupan di Jepang jauh berbeda dengan kehidupan di Indonesia. Semua orang beradu cepat dengan urusannya masing-masing sehingga Maya pun mau tidak mau harus ikut pola budaya itu.

View full article »

Perempuan Priangan ini mempelajari origami secara khusus di Jepang sejak awal tahun 2003 hingga Desember 2005. Sejak tahun 2004, telah menjadi anggota dan mendapatkan sertifikat sebagai instruktur origami berkualifikasi dari NOA (Nippon Origami Association) sebuah asosiasi origami di Jepang dengan anggota dari berbagai negara. Selama di Jepang, ia mengajar origami di sebuah Sekolah Dasar (SD) di Kota Toyohashi dan beberapa kali menjadi instruktur origami untuk mahasiswa asing di Toyohashi University of Technology (TUT), Jepang. Selain menjadi member tetap NOA, ibu dari empat anak ini juga menjadi member JOAS (Japan Origami Academic Society) yang berpusat di Tokyo.

Setelah kepulangannya dari negeri Sakura, ia telah menjadi instruktur origami pada acara workshop dan pelatihan origami untuk anak-anak, para guru TK dan SD, dan masyarakat umum yang tidak hanya di berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Medan, Makassar, tetapi juga kota-kota kecil seperti Boyolali, Salatiga, Tasikmalaya, Kerawang, Garut, dan sebagainya.

Ia juga menjadi direktur Sanggar Origami Indonesia (SOI) yang menjadi wadah komunikasi dan berbagi dari para pecinta dan komunitas origami di Indonesia. Melalui sanggar ini, banyak aktiftas pameran, workshop/pelatihan, seminar, dan lain sebagainya direncanakan dan dijadwalkan. Dalam beberapa tahun ini ia telah berpameran baik tunggal maupun bersama-sama sebagian sanggar dan komunitas origami di banyak kota di Indonesia. Karena berbagai kiprahnya dalam origami di Indonesia ini, ibu dengan empat anak ini juga disebut-sebut sebagai Ibu Origami Indonesia oleh media cetak maupun elektronik/televisi nasional.

Pada bulan Mei tahun 2010, salah satu impiannya terwujud dengan berdirinya Maya Hirai School of Origami di Bandung sebagai sekolah origami pertama di Indonesia. Melalui Sanggar Origami Indonesia (SOI) dan sekolah origaminya, ia berharap bisa mengajarkan origami pada banyak orang dan anak-anak di Indonesia, sehingga menjadi sarana berkreasi, berkarya, dan bermain bagi mereka.

Maya Hirai dalam acara MonCho di Global TV 9 Maret 2010.

Ibu origami kita kali ini tampil menjadi presenter tamu di MonChow, sebuah tayangan pagi di Stasiun TV nasional, Global TV edisi Selasa 9 Maret 2010. Dokumentasinya diupload di YouTube, semoga anda tidak kesulitan untuk membukanya. Link-nya silahkan klik di bawah ini. (admin)

Maya Hirai on Global TV Indonesia 2010