Category: Maya Hirai dalam Berita


Maya di salah satu pameran Sanggar Origaminya

Bandung – Mungkin, banyak yang beranggapan origami hanya sekadar hobi. Tapi ternyata tidak karena manfaat origami bisa berefek pada lingkungan, dekorasi dan juga menghasilkan materi.

Origami berasal dari bahasa Jepang. Gabungan dari kata Ori yang berarti melipat dan gami yang berarti kertas. Menurut Maya Hirai, pendiri Sanggar Origami Indonesia, origami didefinisikan sebagai seni mengubah selembar kertas menjadi bentuk yang unik dan merupakan miniatur benda-benda yang ada di alam.

Pada dasarnya, tutur Maya, semua kertas bisa digunakan untuk origami. Meskipun untuk awal biasanya kertas dengan dua muka lebih banyak digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran. Namun setelah piawai, boleh menggunakan kertas apapun.

Sebab menurut Maya fungsi origami salah satunya bisa menyentuh limbah kertas. “Kertas brosur, kertas koran bisa dimanfaatkan,” tutur ibu tiga putra ini.

Melalui teknik origami kertas-kertas tersebut bisa lebih berguna. Tinggal dibuat lebih menarik, kertas pun bisa jadi dekorasi atau hiasan untuk acara pesta. Dalam pembuatannya pun tidak hanya satu lapis kertas tapi bisa berlapis-lapis, tergantung objek yang akan dibuat.

Namun, lanjut Maya, origami sebagai fungsi atau benda pakai masih sedikit. Misalnya, benda yang sudah bisa dibuat dengan teknik origami adalah wadah.

Bagi Maya, origami adalah sebuah karya seni. Jika ditekuni, origami juga bisa menghasilkan materi.

Seperti halnya Maya yang pernah membuat diorama origami yang kini dipajang di Hotel Nikko Jakarta. Bahkan beberapa anggota Sanggar Origami Indonesia ada yang membuat anting-anting, bros, hiasan, boneka yang menggunakan teknik origami.?

****

Sumber:
teks: http://www.nusantaraku.org/forum/berita-isu-rumor-indonesia/9345-origami-bukan-cuma-hobi.html
foto: admin

PERKENALAN dengan seni melipat kertas ala Jepang (origami) tidak pernah direncanakan Maya Ismayanti (38). Keberangkatannya ke negeri sakura tahun 2003, notabene hanya untuk mendukung suaminya yang akan kuliah S-2. Namun, siapa nyana, ibu empat anak ini malah bertemu dengan “sensei” (guru) origami paling disegani di Jepang. Merasa menemukan ilmu baru yang berharga, ia mengganti nama panggilannya dengan Maya Hirai.

Dilema menyergap Maya saat suaminya, Bambang Setiabudhi (37), mendapat beasiswa S-2 arsitektur dari Toyoha University of Japan. Betapa tidak, sangat tidak mungkin Maya melarang suaminya pergi. Apalagi beasiswa itu merupakan harapan sekaligus kebanggaan yang diimpikan bersama.

Sementara di sisi lain, Maya pun merasa berat harus membesarkan empat anak yang masih kecil-kecil seorang diri. Lebih dari itu, ia juga masih harus menyelesaikan kuliahnya. “Akan tetapi, apa boleh buat, saat itu saya tidak punya pilihan. Saya hanya mencoba taqarrub kepada Allah SWT atas rezeki sekaligus cobaan ini,” ujarnya.

Semula, Maya kuliah di Fakultas Teknik Teknologi Pangan Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, tetapi karena satu dan lain hal ia pindah ke Universitas Bandung Raya (Unbar). Namun, karena pengabdiannya kepada suami dan anak-anak, Maya akhirnya merelakan berhenti kuliah. Ia memilih ikut menyertai suami mencari ilmu dan memboyong keempat anaknya, Yahya (15), Yusuf (11), Tsuroyya (9), dan Ismail (7) ke Jepang.

“Waktu itu anak-anak masih kecil. Saya hanya mencoba ikhlas yang seikhlas-ikhlasnya. Di satu sisi saya ingin menyelesaikan kuliah, tetapi di sisi lain tidak mungkin mengabaikan tanggung jawab sebagai istri bagi suami dan anak-anak,” ujarnya. Lagi-lagi keikhlasan Maya ini diuji. Kehidupan di Jepang jauh berbeda dengan kehidupan di Indonesia. Semua orang beradu cepat dengan urusannya masing-masing sehingga Maya pun mau tidak mau harus ikut pola budaya itu.

View full article »

Maya Hirai dalam acara MonCho di Global TV 9 Maret 2010.

Ibu origami kita kali ini tampil menjadi presenter tamu di MonChow, sebuah tayangan pagi di Stasiun TV nasional, Global TV edisi Selasa 9 Maret 2010. Dokumentasinya diupload di YouTube, semoga anda tidak kesulitan untuk membukanya. Link-nya silahkan klik di bawah ini. (admin)

Maya Hirai on Global TV Indonesia 2010

Sabtu, 20 Februari 2010

Koran Jakarta- Origami bukan sekadar seni melipat kertas menjadi berbagai bentuk menarik. Lebih dari itu, seni asal Jepang tersebut juga melatih kesabaran, memunculkan kreativitas, dan menjadi media komunikasi. Melipat kertas sudah dilakukan banyak orang semenjak kecil.

Membuat bentuk pesawat terbang, burung, kodok, perahu, bunga, dan aneka bentuk menyenangkan lainnya.

Secara tidak sengaja, apa yang dilakukan ketika anak-anak dulu merupakan kegiatan origami, sebuah seni melipat yang asalnya dari Jepang. Fajar Ismayanti, 38 tahun, seorang pehobi origami, mengatakan origami pada dasarnya adalah seni.

Tim Liputan 6 SCTV maya hirai on liputan 6

31/01/2010 12:43

Liputan6.com, Bandung: Origami atau seni melipat kertas asal Jepang sudah dikenal sejak lama di Tanah Air. Namun belum banyak yang piawai membuatnya. Seorang wanita asal Bandung, Jawa Barat, membagikan ilmu origami ke sejumlah kota dan membuka kursus seni melipat kertas ini.

Nama lembaga yang dibuat Fajar Ismayanti adalah Maya Hirai School of Origami. Selama tiga tahun, ibu empat anak ini mendalami ilmu origami sambil menemani suaminya kuliah di Negara Sakura. Maya juga membuat milis Origami Indonesia yang dikenal melalui situs jejaring sosial.

Maya juga aktif menulis buku dan membuat video tentang seluk beluk seni melipat yang dipercaya sudah ada sejak kertas dibuat pada 105 masehi. Perempuan 37 tahun ini sudah menguasai sedikitnya 500 model. Bentuk dan modelnya terus berkembang seiring perkembangan zaman.

Origami digemari semua kalangan di antaranya guru taman kanak-kanak. Sementara anak-anak berusia di bawah lima tahun dapat dirangsang agar lebih bersemangat belajar. “Dengan belajar ilmu origami akan ada interaksi lebih intens dengan anak,” kata Fajar Ismayanti

Maya sudah menghasilkan beragam karya origami dalam bentuk diorama. Sejumlah karyanya menghiasi perkantoran dan hotel di Ibu Kota. Tak jarang ia berbagi ilmu origami ke sejumlah kota. Melipat memang tampak sederhana tapi bila ditekuni bisa menghasilkan karya dan rupiah. (JUM/AYB)

Sumber: http://berita.liputan6.com/sosok/201001/261586/Maya.Hirai.Berbagi.Ilmu.Origami

Senin, 26 Oktober 2009

Siapa yang tak kenal dengan Origami. Seni melipat kertas asal negara Sakura Jepang ini memang sudah cukup popular di Indonesia. Tak hanya diminati oleh anak-anak tapi juga orang dewasa hingga orang tua.

Menempati salah satu stan di UrbanFest 2009, Origami menjadi salah satu pojok yang cukup banyak diminati pengunjung. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo usai meresmikan pembukaan UrbanFest pada Sabtu (24/10) menyempatkan diri mampir ke stan ini.

Kehadiran stand Origami ini memang terbilang istimewa, selain dihadirkan langsung dari Bandung juga menghadirkan penulis buku Origami Maya Hirai.

Selasa, 6 Oktober 2009

ORIGAMI, seni melipat kertas asal Jepang itu mampu mencuri hati. Bentuknya semakin beragam, teknik pembuatannya pun dikembangkan. Tak heran banyak orang jatuh hati dan tertarik untuk mempelajari.

Pada akhir Juli lalu, masyarakat Jepang dibuat kagum oleh origamer? sebutan praktisi origami? berusia 25 tahun bernama Wataru Ito. Ito memamerkan karya origami berbentuk kota yang disebutnya “Castle on the Ocean” setinggi satu meter.

Karya origami yang rumit dan teliti itu dibuatnya secara bertahap selama empat tahun, di sela-sela kuliahnya di Tokyo University of the Arts. Miniatur kota kertas itu dibuat Ito lantaran terpesona melihat lanskap El Temple de la Sagrada Familia di Barcelona, Spanyol.

Pengerjaannya dilakukan secara mendetail dan rinci. Ada sekolah, gereja, taman dengan bianglala, toko, rel kereta api, serta bandara. Ia bahkan merajutnya dengan lampu-lampu kecil sehingga kota miniatur tersebut berpendar cantik. Mereka yang melihatnya tak akan menyangka bahwa bangunan-bangunan tersebut terbuat dari kertas.

Seni melipat kertas asal Jepang ini memang sudah berkembang pesat.Tak lagi kolot dengan bentuk sederhana seperti kapal, perahu, atau hewan. Kini, origami sudah berjubah modern, mengusung nama origami kontemporer.

Origami kontemporer ini umumnya dilakukan origamer yang mengembangkan karya origaminya sesuai bidang yang dikuasai. Kebanyakan berkecimpung di bidang arsitektur. Tak heran jika kemudian banyak sekali karya origami yang berbentuk bangunan, seperti juga yang dilakukan Ito.

Dalam lingkup lebih sederhana, karya origami kontemporer juga sempat dipamerkan di Indonesia pada akhir pekan lalu di Senayan City, Jakarta. Pameran bertajuk “Melati & Sakura in Harmony” ini mempertontonkan 32 karya origami asal Jepang dalam berbagai bentuk.

Ada yang mengadaptasi bangunan atau tempat terkenal di dunia, seperti Borobudur. Ada pula yang meniru kawasan Hiroshima di Jepang. Karya ini juga penuh warna. Salah satu karya yang mengambil model salah satu taman di Belgia bahkan menampilkan warna-warni bunga taman yang indah.

Banyak peminat di Indonesia, origami lebih banyak dipraktikkan kalangan tertentu dalam lingkup terbatas. Tapi siapa sangka, ketika dipamerkan untuk kalangan luas, tanggapannya justru luar biasa. Hal itu yang terlihat dalam pameran selama tiga hari, 2-4 Oktober 2009, di Senayan City, Jakarta.

Pengunjung mal tampak antusias melihat berbagai karya origami yang dipamerkan. Banyak yang ingin melihat dari dekat, termasuk pula mengabadikannya dengan kamera ponsel atau saku. Bahkan, sesi workshop yang digelar selama dua hari, 3-4 Oktober, juga ramai peminat. Mulai ibu rumah tangga, kaum pekerja, sampai remaja dan anak-anak. Kaum pria pun tak malu-malu jadi peserta.

Umumnya mereka tertarik karena selain pengajarnya langsung dari Jepang, juga karena penasaran dengan seni lipat ini. Ismi Pancarini, seorang guru TK di kawasan Jakarta Timur, bahkan tetap antusias mengikuti workshop meski sudah menguasai seni ini selama empat tahun.

“Saya memang suka origami. Walau sudah belajar empat tahun, kebanyakan yang saya kuasai bentuk sederhana. Bentuk yang rumit susah karena banyak lipatannya,” kata Ismi.

Sesuai namanya, origami memang mengandalkan lipatan-lipatan kertas untuk menghasilkan bentuk tertentu. Menurut Akira Yamashita, salah satu guru di workshop tersebut, bentuk yang paling mudah bisa terdiri dari dua lipatan saja. Tapi bentuk yang sulit, jumlahnya bisa ratusan lipatan. Bayangkan sebuah kertas segi empat yang kecil, bisa dilipat sedemikian banyak. Pastinya membutuhkan ketelatenan dan ketelitian tinggi.

“Jika ingin membuat bentuk origami baru, biasanya kita pikirkan dulu bentuknya. Diimajinasikan, setelah itu kita coba lipatannya. Kemudian dibuka lagi, coba lagi. Setidaknya satu bentuk baru bisa dihasilkan selama dua jam. Tapi itu juga kalau sudah ahli sekali,” tutur Ogura Takako, pengajar workshop tersebut.

Dengan berbagai bentuk yang bisa dihasilkan, tak ayal para origamer senang bereksperimen mencari bentuk-bentuk baru. Jika berhasil menemukan bentuk yang disukai, mereka memajangnya di rumah mereka sebagai hiasan, seperti yang dilakukan Hadi Tahir, 28 tahun.

“Bentuk-bentuk bunga digantung sebagai hiasan. Lumayan untuk mempercantik rumah,” ujar pria yang bekerja di perusahaan bidang teknologi informasi ini.

Lain lagi dengan Mariany Lidia, 29 tahun. Karyawan yang bekerja di bidang automotif ini mungkin hanya menjadikan origami sebagai hobi. Tapi saat menjadi mahasiswa, ia pernah menjadikan keterampilannya ini sebagai ladang mencari uang.

Ida, panggilan akrabnya, pernah membuka toko origami yang menjual berbagai karya origami hasil desain sendiri. Ia juga menjual buku-buku serta berbagai pernak-pernik pendukung origami.

“Lumayan laku. Pembelinya mulai guru TK sampai pehobi biasa. Saya bahkan pernah bekerja sama dengan satu penerbitan untuk membuat buku desain origami sendiri,” kata Ida yang kerap menghadiahkan kotak perhiasan dari origami untuk temannya yang berulang tahun.

Maya Hirai, 38, bahkan bisa mendapatkan penghasilan dari origami. Origamer yang pernah belajar di Jepang selama dua tahun sekaligus pencetus komunitas dan website sanggar-origami.com ini berhasil menjual beberapa karyanya pada Hotel Nikko Jakarta. Tercatat, tujuh karyanya kini dipajang di coffee shop lantai dasar hotel di kawasan Thamrin tersebut.

“Yang paling mahal dibeli seharga Rp3,5 juta. Sisanya rata-rata Rp1 juta,” kata Maya yang di antaranya membuat origami pemandangan laut, ikan, dan burung untuk hotel tersebut.

Yang lebih serius, ada pengusaha Bali asal Malang, Ingrid Angelica, 48 tahun, yang menjual karya 3-D origami lewat website-nya monicacraft.com. Menurut Ingrid, kebanyakan konsumennya justru datang dari Jakarta atau kota lain seperti Yogyakarta.

“Biasanya untuk hiasan di penikahan, atau untuk kado teman. Jika teman bershio monyet, dikasih boneka origami monyet,” kata Ingrid.

Di situsnya, ia menawarkan berbagai bentuk karya origami dengan harga mulai Rp10.000 hingga ratusan ribu rupiah.
(Koran SI/Koran SI/nsa)

Written by Newsroom Tuesday, 06 October 2009

KawanPustaka. Senin-Selasa, 5-6 Oktober 2009 bertempat di lobi Hotel Nikko Jakarta, Sanggar Origami Jakarta (SOI) mengadakan workshop bersama Maya Hirai dan Member Origami Indonesia yang didukung penerbit KawanPustaka.

Pada awal acara, Maya Hirai mengatakan bahwa membuat hasil karya lipatan kertas atau yang disebut dengan origami itu tidak sulit, asalkan kita memahami teori dasarnya. Dengan satu kali lipatan kertas saja sudah menghasikan bentuk origami.

Dalam acara tersebut Maya juga menunjukkan beberapa contoh lipatan kertas karyanya kepada para pengunjung, dari mulai lipatan yang menyerupai binatang badak, burung merak, kupu-kupu, hiasan bunga, dan lain-lain.


Selain itu, Maya Hirai juga memeragakan kepada pengunjung tentang cara membuat berbagai macam bentuk lipatan kertas dari mulai yang mudah sampai kepada yang paling sulit. Di situlah banyak para pengunjung yang sangat antusias untuk mengikuti apa yang diperagakan Maya. Tahap demi tahap lipatan diikuti para pengunjung sampai akhirnya bisa menghasilkan karya origami.

Di sesion terakhir, Maya memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk bertanya tentang melipat kertas atau yang disebut dengan origami.

****

Sumber: http://kawanpustaka.com/Workshop-Origami-Bersama-Maya-Hirai.html

Written by Ester Pandiangan Thursday, 20 August 2009 10:43

Tak pernah terbersit dalam benak Fajar Ismayanti atau lebih akrab disapa Maya Hirai, jika kelak ia akan menekuni dunia origami. Bahkan, kemudian menjadikan origami sebagai profesinya. Amat bertolak-belakang dengan latar belakang pendidikannya semasa kuliah di FT Unpas Bandung, Jurusan Teknologi Pangan.

Jika dihitung-hitung, sudah banyak yang dilakukannya lewat seni melipat kertas dari negeri Sakura tersebut. Mulai dari pameran, seminar, lomba, menjadi juri lomba origami, menulis buku dan CD origami dan banyak kegiatan berkaitan dengan origami di mana ia sebagai instrukturnya.

Tanpa Sengaja

Saat ditemui Global, Direktur Sanggar Origami Indonesia bercerita, terjun ke dunia origami awalnya tanpa kesengajaan. Bermula saat tinggal di Jepang dulu bersama suami yang sedang mengikuti program S3 di negaranya Takuya Kimura.
Kebetulan perguruan tinggi tempat sang suami menimba ilmu memberikan program belajar gratis belajar bahasa Jepang dan origami khusus untuk keluarga mahasiswa, sebagai kegiatan pengisi waktu luang.
Ibu empat anak ini menyambut baik kesempatan tersebut. Apalagi diakuinya semasa muda dulu ia memiliki ketertarikan untuk mempelajari origami. Sayangnya program dari kampus tersebut hanya berlangsung satu kali dalam setahun.

Selang beberapa waktu setelah kegiatan tersebut berlalu, lagi-lagi secara kebetulan Maya berjumpa dengan Takako Hirai guru origaminya dulu. Setelah berbicara panjang lebar, sang sensei menawarinya untuk melanjutkan kembali belajar origami.

Awalnya pengarang buku ‘Origami Untuk Anak Usia 4-10 tahun’ penerbit Kawanpustaka ini turut belajar dalam pelajaran ekskul di SD Ashihara Shogako tempat Takako mengajar. Lambat-laun statusnya mulai meningkat dari murid menjadi asisten. Dan suatu masa ia mengikuti tes sebagai instruktur di NOA (Nippon Origami Association) tahun 2005.

Written by Ester Pandiangan Tuesday, 11 August 2009 10:27

Origami adalah salah satu seni kebudayaan di Jepang selain aikido sebagai seni bela diri ataupun ikebana yang merupakan seni merangkai bunga. Di Indonesia sendiri origami bukanlah hal yang baru lagi. Hampir di setiap TK mengajarkan teknik melipat kertas kepada anak didiknya. Dan origami ini menjadi salah satu pelajaran kreativitas yang menyenangkan bagi anak-anak.

Ternyata tak hanya menjadi pelajaran nan menyenangkan saja, origami juga memberikan manfaat terhadap tumbuh kembang anak. Layaknya mengaktifkan otak, motorik halus dan meningkatkan kreativitas anak.

Ini dikatakan Maya Hirai Direktur Sanggar Origami Indonesia dalam seminar ‘Bermain Origami Mengaktifkan Otak Anak, Melatih Motorik Halus dan Kreatifitas Anak’ yang dilaksanakan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Pendidik Anak Usia Dini ‘Bunayya’ YPSDI Al Hijrah di Gedung BP PNFI Reg. I Jalan Kenanga Raya Medan, Sabtu (8/8).

Instruktur origami bersertifikat dari Nippon Origami Association (NOA) ini mengatakan origami bukan hanya sekadar seni melipat kertas yang mengubah selembar atau beberapa kertas menjadi sebuah model atau barang yang berguna, melainkan juga mengajarkan kreativitas, ketekunan, ketelitian, imajinasi serta keindahan.

Pada hakekatnya origami adalah dunia yang sangat dekat dengan anak-anak. Selain aktifitasnya, sebagian besar model origami sangat disukai karena dibentuk menjadi miniatur atau merepresentasikan berbagai ragam benda.

Manfaat Origami pada Anak

Wanita yang pernah mengajar origami di Ashihara Syougakko (SD) di Toyohashi Aichi, Jepang ini mengungkapkan beberapa manfaat berorigami bagi anak-anak. Seperti:

-Melatih motorik halus pada anak sekaligus sebagai sarana bermain yang aman, murah, menyenangkan dan kaya manfaat.

-Lewat origami anak belajar membuat mainannya sendiri, sehingga menciptakan kepuasan dibanding dengan mainan yang sudah jadi dan dibeli di toko mainan.

-Membentuk sesuatu dari origami perlu melewati tahapan dan proses tahapan ini tak pelak mengajari anak untuk tekun, sabar serta disiplin untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan.

-Lewat origami anak juga diajarkan untuk menciptakan sesuatu, berkarya dan membentuk model sehingga membantu anak memperluas ladang imajinasi mereka dengan bentukan origami yang dihasilkan.

-Apa yang dirasakan anak-anak ketika berhasil menciptakan sesuatu dari tangan mungil mereka? Kebanggaan dan kepuasan sudah pasti. Terlebih lagi anak belajar menghargai dan mengapresiasi karya lewat origami.

-Belajar membaca diagram/gambar, berpikir matematis serta perbandingan (proporsi) lewat bentuk-bentuk yang dibuat melalui origami adalah salah satu keuntungan lain dari mempelajari origami.

Selain manfaat-manfaat tadi, bermain origami juga melatih anak berkomunikasi, mengungkapkan apa yang dipikirannya serta memberikan waktu bermain yang menyenangkan bersama orangtua. Seperti mengkomunikasikan bentuk apa yang tercipta dari selembar kertas yang dilipat atau anak akan berlatih bertanya kepada orangtua bila terganjal kesulitan di tengah jalan.

Dari selembar kertas, permainan lipat-melipat anak mendapat segudang manfaat dari origami. Bagaimana dengan Anda, siap bermain origami bersama anak?

****

Ester Pandiangan | Global | Medan

http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=14263:segudang-manfaat-origami-untuk-anak&catid=86:family&Itemid=98