PERKENALAN dengan seni melipat kertas ala Jepang (origami) tidak pernah direncanakan Maya Ismayanti (38). Keberangkatannya ke negeri sakura tahun 2003, notabene hanya untuk mendukung suaminya yang akan kuliah S-2. Namun, siapa nyana, ibu empat anak ini malah bertemu dengan “sensei” (guru) origami paling disegani di Jepang. Merasa menemukan ilmu baru yang berharga, ia mengganti nama panggilannya dengan Maya Hirai.

Dilema menyergap Maya saat suaminya, Bambang Setiabudhi (37), mendapat beasiswa S-2 arsitektur dari Toyoha University of Japan. Betapa tidak, sangat tidak mungkin Maya melarang suaminya pergi. Apalagi beasiswa itu merupakan harapan sekaligus kebanggaan yang diimpikan bersama.

Sementara di sisi lain, Maya pun merasa berat harus membesarkan empat anak yang masih kecil-kecil seorang diri. Lebih dari itu, ia juga masih harus menyelesaikan kuliahnya. “Akan tetapi, apa boleh buat, saat itu saya tidak punya pilihan. Saya hanya mencoba taqarrub kepada Allah SWT atas rezeki sekaligus cobaan ini,” ujarnya.

Semula, Maya kuliah di Fakultas Teknik Teknologi Pangan Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, tetapi karena satu dan lain hal ia pindah ke Universitas Bandung Raya (Unbar). Namun, karena pengabdiannya kepada suami dan anak-anak, Maya akhirnya merelakan berhenti kuliah. Ia memilih ikut menyertai suami mencari ilmu dan memboyong keempat anaknya, Yahya (15), Yusuf (11), Tsuroyya (9), dan Ismail (7) ke Jepang.

“Waktu itu anak-anak masih kecil. Saya hanya mencoba ikhlas yang seikhlas-ikhlasnya. Di satu sisi saya ingin menyelesaikan kuliah, tetapi di sisi lain tidak mungkin mengabaikan tanggung jawab sebagai istri bagi suami dan anak-anak,” ujarnya. Lagi-lagi keikhlasan Maya ini diuji. Kehidupan di Jepang jauh berbeda dengan kehidupan di Indonesia. Semua orang beradu cepat dengan urusannya masing-masing sehingga Maya pun mau tidak mau harus ikut pola budaya itu.

Sambil mendampingi suami kuliah, Maya total menjadi ibu rumah tangga. Menyiapkan segala keperluan suami, menyediakan makanan, pakaian, dan segala kebutuhan anak-anak, mulai dari menyiapkan sarapan, mengantar anak-anak ke sekolah, menjemputnya lagi, begitu seterusnya.

Yang mengagetkan Maya, sekolah anak-anak di Jepang semuanya full day school (diselenggarakan seharian penuh) sehingga anak harus membawa semua perbekalan selama sehari, mulai dari makanan, pakaian tidur siang, sampai pakaian untuk pulang. “Bagaimana saya membawa semua itu plus keempat anak saya?” ujar Maya dengan ceria.

Ternyata, Maya mengantar jemput keempat anaknya ke sekolah dengan bersepeda. “Subhanallah, padahal di Indonesia saya tidak bisa bersepeda,” katanya.

Bagi Maya, menjadi ibu dan istri, ternyata tak sepenuhnya sesuai yang ia bayangkan. Ia pikir, semua waktu akan tersita habis dan tidak punya lagi ruang untuk mengekspresikan diri. Namun ternyata, di antara semua kesibukan, masih tersisa waktu luang bagi Maya.

“Saat waktu luang itulah, saya mencoba ikut hadir pada pertemuan mahasiswa Indonesia yang ada di Jepang. Di situlah saya pertama kali mengenal origami,” ujarnya dengan mata berbinar.

Maya mengaku, kehadirannya pada acara itu berkat dukungan suaminya. “Suami saya selalu bilang, cobalah isi waktu dengan apa pun yang bermanfaat. Jangan pernah mengatakan tidak bisa hanya karena tidak ada sesuatu yang kita bayangkan sebelumnya,” ujar Maya menirukan perkataan sang suami.

Bertemu guru

Kediaman Maya di Jepang ternyata berseberangan dengan seorang guru (sensei) origami. Hal itu diketahuinya saat Maya bertemu selayaknya tetangga. Waktu itu, kata Maya, sensei yang bernama Takako Hirai San (76) itu mengajak Maya ke acara pertemuan mahasiswa Indonesia-Jepang. Padahal Maya juga hadir pada acara tersebut. “Makanya, saya bilang waktu itu kalau saya malah ikut kelas origaminya,” ujar Maya.

Sejak itulah, Maya menimba ilmu dan terus berlatih origami kepada sensei Hirai yang ternyata merupakan sensei origami paling disegani di Jepang. Maya tidak segan-segan bertanya banyak hal, membeli buku-buku, mendatangi kelas-kelas origami, dan segala hal tentang origami. “Yang penting, saya bisa mengisi kekosongan waktu saat anak-anak sekolah seharian penuh dan suami kuliah,” ujarnya.

Berkat dukungan suami pula, Maya melebarkan pengetahuan origami lewat internet. Ia membuka jaringan dengan semua pehobi dan komunitas origami di seluruh dunia. Bahkan, ia pun mulai membuka e-mail tanya jawab tentang origami dalam bahasa Indonesia.

Hasilnya, sangat luar biasa. Banyak sekali peminat origami di Indonesia yang “haus” informasi tentang seni melipat kertas ini. Sampai akhirnya Maya kewalahan menjawab semua e-mail. Tidak mudah memberikan pemahaman hanya mengandalkan e-mail. “Bayangkan saja, semua langkah origami itu kan harus sambil dilihat. Tapi di e-mail, saya hanya bisa menjabarkannya lewat kata-kata,” ujar Maya.

Lagi-lagi sang suami menyertai Maya dalam berproses. Sama halnya Maya yang telah dan sedang menyertai suaminya berproses. “Suami saya membuatkan situs web origami (2003) buat saya. Sungguh, langkah inilah momentum yang membuka segalanya,” ujar Maya tak kuasa menyembunyikan kebahagiaannya.

Berkat situs web yang dibukanya, Maya bisa meng-up date segala informasi tentang origami. Bukan saja langkah-langkah, jenis, tetapi juga foto-foto. Termasuk membangun komunitas origami di Indonesia lewat ruang internet. Berpuluh, bahkan beratus, anggota komunitas ini mengalir di ruang internet origami Maya.

Malah, antusiasmenya melebihi dari apa yang dibayangkan Maya. Yang menakjubkan, karena keinginan mendesak anggota komunitas maya ini ingin saling akrab, mereka meminta kopi darat untuk mengadakan pertemuan bersama. Padahal, Maya sendiri selaku penggagas semua itu ada di Jepang.

“Akan tetapi, berkat kerja keras dan kebersamaan mereka, anggota komunitas origami itu bisa saling bertemu mengadakan workshop di Jakarta tanpa saya,” ujarnya.

Kewalahan permintaan

Tahun 2006 Maya beserta keluarganya kembali ke Indonesia. Dengan gelar baru untuk suami dan juga untuk Maya. Sebab di berkas administrasi yang dibawanya pulang, Maya tidak hanya membawa paspor dan visa, tetapi juga sertifikat berlabel Nippon Origami Association (NOA). Asosiasi resmi yang mengeluarkan lisensi kepandaian origami di Jepang.

Siapa yang menanam akan menuai hasilnya. Begitulah pepatah yang paling tepat diberikan kepada Maya selepas pulang dari Jepang. Jejaring yang berhasil dibangunnya di internet memberi dampak yang luar biasa. Keterbukaan Maya yang didukung sepenuhnya oleh suami, mengantarkan ia pada berbagai pameran dan lokakarya di banyak tempat.

Hasilnya, origami kian berkembang. Para pencintanya yang selama ini hanya orang per orang sudah membentuk komunitas. Komunitas ini pun ada di beberapa kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Belum kota-kota lain yang di kota itu terdapat anggota milis origami internet, semuanya sering mengundang Maya untuk mengajarkan origami.

Tak ayal, Maya akhirnya menjadi sensei origami asli Indonesia yang berkeliling ke banyak tempat untuk mengajarkan seni melipat kertas ini. Pesertanya pun beragam, mulai dari anggota milis yang sebagian besar adalah para profesional, guru, mahasiswa, sampai murid-murid TK. Terlebih seni melipat kertas yang ada di Indonesia, kata Maya, cenderung kurang variatif. Hanya dari itu ke itu.

“Tapi mungkin karena saya memberi sesuatu yang baru kepada mereka, alhamdulillah tidak pernah kurang jadwal mengajar dari setiap minggu,” ujar Maya

Tidak cuma itu, Maya juga diminta penerbit untuk membukukan karya-karyanya. Termasuk membuatnya dalam bentuk video sehingga lebih memudahkan orang untuk mengikuti.

Yang membanggakan, Maya pernah dicari-cari sebuah production house (PH) hanya untuk membuat lipatan-lipatan uang menjadi sebuah mobil. Menurut dia, PH tersebut dikontrak sebuah bank besar di Indonesia untuk iklan dengan sentuhan origami. “Kebetulan, akhirnya mereka menemukan saya dan dari situlah saya bisa membuatkan origami untuk iklan,” ujar Maya yang mengaku mendapat pembayaran sangat pantas.

Maya juga mengajar tetangganya berlatih origami. Suatu ketika, ia mendapat pekerjaan membuat 2.000 burung kertas dari sebuah LSM yang akan mengadakan kampanye sosial. Dengan syarat, hanya lima hari pengerjaan. “Alhamdulillah, akhirnya berkat bantuan ibu-ibu tetangga, pekerjaan itu selesai tepat waktu. Bahkan ibu-ibu pun mendapat kompensasi dari setiap burung kertas yang dibuatnya,” ujarnya.

Ke depan, Maya bercita-cita ingin membuka sekolah khusus origami. Bahkan, langkah ke arah itu pun sedang dipersiapkan. “Saya sih ingin nama sekolahnya nanti Maya Hirai School of Origami,” ujarnya menerawang.

Namun lagi-lagi, buah ikhlas yang diberikan Maya, belum cukup mendapat pahala. Semula, Desember ini, Maya ingin kembali ke Jepang untuk bersilaturahmi dan berterima kasih kepada sensei yang telah mengantarkannya seperti sekarang. Namun, justru Maya malah diundang NAO untuk meningkatkan ilmunya di bidang origami. Alasannya, lembaga ini menginginkan dirinya menjadi sensei resmi yang ditunjuk NAO sebagai pengajar origami di Indonesia.

“Sungguh, semua ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya hanya sadar dan selalu akan saya ingat bahwa apa pun yang kita lakukan dengan ikhlas akan mendapat pahala yang tidak pernah kita duga,” ujarnya berkaca-kaca.

Tanggal 3 Desember 2009 kemarin, Maya terbang (lagi) ke Jepang. Kali ini bukan untuk mendampingi suami mencari ilmu, tetapi untuk menambah ilmu bagi dirinya sendiri. (Eriyanti/”PR” )***

Sumber: Pikiran Rakyat, 6 Desember 2009.

« »